CARA MENG IN AKTIVASI VIRUS COVID-19 DENGAN MENGGUNAKAN ION UDARA

Prof Dr Suhartono S.Si M.Kom UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dalam Liputan YouTube UIN MALANG MENGGELAR DISKUSI TERKAIT MANAJEMEN PENCEGAHAN VIRUS CORONA (COVID 19)
https://www.youtube.com/watch?v=pQT2pmQcwh4

Dalam Liputan JatimTimes.Com : Sambil Berjemur, UIN Malang Beri Edukasi Soal Corona
https://jatimtimes.com/baca/211625/20200327/172100/sambil-berjemur-uin-malang-beri-edukasi-soal-corona

This image has an empty alt attribute; its file name is Sambil-Berjemur-UIN-Malang-Beri-Edukasi-Soal-Coronaeda3e11d8fc2c6c7.jpg

1. Apa itu virus Coronavirus dan COVID-19 ?

Virus COVID-19 adalah turunan dari virus Coronavirus yang bermutasi, bentuk COVID19 adalah berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 100-120 nm. Karena itu, pencegahan infeksi Coronavirus saat ini adalah menggunakan masker yang berpori-pori lebih kecil dari 100 nm.

Virus Coronavirus pertama kali diisolasi pada tahun 1965, dari cairan hidung seorang anak yang menampakan gejala pilek (common cold), yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus atau virus Influenza. Dan, pada kenyataannya, sulit sekali membedakan antara gejala infeksi Rhinovirus, virus Influenza dan Coronavirus.

Selain menginfeksi manusia, Coronavirus juga menginfeksi binatang seperti babi, anjing, kucing, tikus, kelinci, sapi, dan ayam. Infeksi virus pada binatang pada umumnya juga menyebabkan gejala gangguan pernapasan (pneumonia) seperti halnya pada manusia.

Namun virus Coronavirus sangat host-specific, sehingga Coronavirus yang menginfeksi salah satu binatang hanya menginfeksi binatang tersebut. Virus tersebut tidak bisa menginfeksi binatang lain dan bahkan manusia. Virus ini tidak stabil di udara, dan hanya mampu hidup selama 3 jam, sehingga kecil sekali kemungkinan penularan lewat udara. Kemungkinan besar penularan virus ini adalah lewat bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kepada orang yang dekat dengannya.

Gambar 1.  Bentuk COVID-19

2. Ionisasi udara

Ionisasi adalah proses fisik mengubah atom atau molekul udara menjadi ion dengan menambahkan atau mengurangi partikel bermuatan seperti elektron. Ionisasi udara terbentuk saat terjadi plasma pijar korona pada udara, plasma pijar korona adalah lucutan elektrostatik yang disebabkan oleh ion udara yang mengelilingi sebuah konduktor yang terjadi saat kekuatan medan listrik melebihi nilai tertentu, tetapi proses ini tidak menimbulkan busur elektrik. Korona adalah terlepasnya muatan listrik dari permukaan konduktor yang merupakan salah satu gejala tembus parsial karena adanya kuat medan listrik yang sangat tinggi di permukaan elektroda sehingga terjadi tembus di sekitar daerah elektroda tersebut seperti pada gambar 2. Elektron bebas di sekitar medan tinggi ini akan dipercepat sampai kecepatan yang mencukupi untuk  membebaskan elektron dari kulit terluar dari sebuah molekul udara melalui tumbukan yang menghasilkan sebuah ion positif, ion negatif dan elektron bebas lainnya. Korona diawali dengan adanya ionisasi dalam udara yaitu adanya kehilangan elektron dari molekul udara.

Gambar 2 Ilustrasi daerah antara dua elektroda pada lucutan korona dengan polaritas positif pada elektroda

Plasma terjadi ketika terbentuk percampuran kuasinetral dari elektron, radikal, ion positif dan ion negatif, maka ion udara dihasilkan dari udara yang terkena lucutan plasma korona, ion udara tersebut terdiri dari ion cluster (yaitu ion positif (H+) dan ion negatif (O2)) dan oksigen aktive, ilustrasi dapat dilihat pada gambar 3, partikel-partikel tersebut dapat digunakan untuk membunuh virus yang terdapat diudara dan yang menempel di benda pada jangkauan ion udara.

Gambar 3. Ilustrasi terjadinya ionisasi udara karena lucutan corona di udara

3. Mekanisasi ion udara dalam meng in aktivasi virus COVID-19

Ion udara adalah udara yang mengandung ion positif (H+) dan ion negatif (O2), ion udara tersebut jika mengenai virus COVID-19, akan berpengaruh pada “Protein S” yang berbentuk sepatu, yang dapat dikatakan sebagai spike protein, yang tersebar disekeliling permukaan virus COVID-19. “Protein S” inilah yang berperan penting dalam proses infeksi virus terhadap manusia. Tampak pada gambar 1 “Protein S” pada virus COVID-19 terletak disekeliling permukaan virus seperti mahkota.

Virus COVID-19 mempunyai sifat tidak stabil di udara, dan hanya mampu hidup selama beberapa jam dalam udara, sehingga kecil sekali kemungkinan penularan lewat udara, bila terjadi karena adanya spray dari cairan yang mengandung virus COVID-19 yang melayang diudara. Kemungkinan besar penularan virus ini adalah lewat bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kepada orang yang dekat dengannya. “Protein S” pada virus COVID-19 jika terkena udara bebas yang tidak mengandung ion akan dikonversi menjadi hydroxyl radicals (-OH), yaitu zat aktif yang sangat kuat, yang bisa meng infeksi manusia.

Sedangkan jika “Protein S” pada virus COVID-19 terkena ion udara maka mekanisasi yang terjadi adalah ion udara akan mencuri H (Hidrogen) dari dalam “Protein S “, ion udara dan H (Hidrogen) dari dalam “Protein S ” akan bereaksi dan bergabung secara kimiawi menjadi bentuk air (H2O). Sehingga “Protein S” pada virus COVID-19 menjadi rusak, dapat dilihat pada gambar 4 yaitu virus Coronavirus yang terapapar oleh ion udara, maka virus COVID-19 yang terkena ion udara tidak dapat menginfeksi sel saat masuk ke dalam tubuh manusia.

Gambar 4. Ilustrasi virus Coronavirus normal yang terpapar ionisasi udara (ion positif (H+) dan ion negatif (O2)) menjadi  virus Coronavirus yang tidak aktif.

Gambar 5. Mikroskop elektron yang menunjukkan keadaan virus Coronavirus normal dan virus Coronavirus yang tidak aktif karena terpapar oleh Ionisasi udara

Pada gambar 5 dapat dilihat bahwa pada foto mikroskop elektron, virus Coronavirus adalah berbentuk normal dan dapat diamati ketika tidak terpapar oleh ionisasi udara, sedangkan sebalik nya tidak ada virus Coronavirus yang berbentuk normal yang dapat diamati, dan virus Coronavirus tampaknya menjadi zat yang terurai di mana “Protein S” (protein protrusions) dan envelop (surface membrane) pada permukaan virus Coronavirus terlihat rusak dan tidak berbentuk molekular. Ini dapat dikaitkan dengan virus Coronavirus yang terurai akibat terpapar oleh ion udara. Penelitian ini dengan teknologi ionisasi udara akan memiliki utilitas luar biasa dan berpotensi yang sangat besar dalam aplikasi praktis untuk menekan korban dalam pendemi Virus COVID-19 di Indonesia.

4. Cara menggunakan ionisasi udara pada pasien yang terinfeksi virus COVID-19 ?

Penelitian oleh Mortman yaitu menggunakan pemindaian CAT (Computer Aided Tomography) atau CT scan dari pasien coronavirus, sebagai data yang sebenarnya untuk membuat render tampilan VR, seperti pada gambar 6, terlihat bahwa jantung yang terinfeksi oleh virus COVID-19 adalah area yang berwarna kuning. Dimana ia menggunakan seorang pasien di George Washington University Hospital yang awalnya mengalami deman dan batuk, sehingga dinyatakan positif COVID-19.

Gambar 6. Tampilan render VR organ paru-paru pasien COVID-19. Foto: Dok. George Washington University Hospital/Surgical Theater

“Jadi pasien ini adalah seorang pria berusia akhir 50-an, yang awalnya mengalami demam dan batuk seperti banyak orang lain. Dia datang ke rumah sakit terdekat dengan gejala pernapasan, namun terus berkembang cukup cepat, ke titik di mana dia harus diinkubasi dan memakai ventilator,” kata Dr. Mortman, seperti dikutip KOKH Fox 25.

Ventilator sendiri adalah mesin untuk membantu pernapasan pasien yang terinfeksi virus COVID-19. Ventilator ini sering dibutuhkan oleh pasien yang terinfeksi virus COVID-19 yang sulit bernapas sendiri akibat penyakit infeksi pernafasan. Tujuan penggunaan alat ini adalah agar pasien mendapat asupan oksigen yang cukup. Ventilator akan ‘menghembuskan’ oksigen ke dalam tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida dalam tubuh. Untuk mempercepat pengobatan pasien yang terinfeksi virus COVID-19 menurut peneliti dan masih dalam proses pembuktian klinis dapat disarankan bahwa pada saat pemakaian ventilator perlu diberi ion udara sedini mungkin dengan kadar yang direkomendasi, masih dalam proses penelitian lebih lanjut dan proses pembuktian klinis masih berlangsung, tujuan nya adalah udara yang dihirup oleh pasien yang terinfeksi virus COVID-19 terdapat ion positif (H+) dan ion negatif (O2) agar udara yang terionosasi tersebut dapat menjangkau ke virus COVID-19.

Selain menggunakan ventilator maka bagi pasien yang terinfeksi virus COVID-19 yang masih bisa bernafas normal maka perlu adanya chamber yang terdapat udara yang terionisasi untuk treatmen, sehingga pasien yang batuk atau bersin dan udara nya yang terkontaminasi oleh  virus COVID-19  akan segera menjadi bersih lagi dan virus COVID-19  akan berubah dan dikonversi menjadi hydroxyl radicals (-OH), dimana virus COVID-19  yang sudah rusak  sudah tidak bisa menginfeksi manusia. Hal ini  membuat pasien yang terinfeksi virus COVID-19 akan merasa bebas untuk aktifitas dan merasa lebih segar karena udara yang terus bersih saat bernafas, dibanding dengan sekarang ini dimana pasien memakai masker terbatas gerak nya, dan udara yang masuk ke pernapasan adalah masih tercemar oleh virus COVID-19.

Daftar Pustaka

Giuliana Banche, Maria Rita Iannantuoni, Andrea Musumeci, Valeria Allizond and Anna Maria Cuffini, Use of Negative and Positive Ions for Reducing Bacterial Pathogens to Control Infections, Department of Public Health and Paediatrics, University of Torino, Turin, Italy,  ACTA SCIENTIFIC MICROBIOLOGY (ISSN: 2581-3226) Volume 2 Issue 11 November 2019. https://actascientific.com/ASMI/pdf/ASMI-02-0395.pdf

Plasmacluster Ions™*1 Inactivate an Airborne Corona Virus—A World First*2 Verification Research Conducted Jointly with the Kitasato Institute. https://global.sharp/pci/en/certified/pdf/viruses_01.pdf

William H. Bailey, Amy Lavin Williams and Megan Jeanne Leonhard, Exposure of laboratory animals to small air ions: a systematic review of biological and behavioral studies, BioMedical Engineering. https://biomedical-engineering-online.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12938-018-0499-z

Brian W Donovan, Jon D Reuter1,2, Zhengyi Cao1, Andrzej Myc1, Kent J Johnson3  and James R Baker Jr, Prevention of murine influenza A virus pneumonitis by surfactant nano-emulsions, Antiviral Chemistry & Chemotherapy 11:41–49 https://www.intmedpress.com/serveFile.cfm?sUID=97d6c102-6014-4a53-afec-ee08ef3beaaa

Dachlan, Harry Soekotjo, Moch. Dhofir dan Vico Fernanda. Pengaruh Sudut Keruncingan dan Diameter Finial Franklin Terhadap Distribusi Medan Listrik dan Tingkat Tegangan Tembus. Jurnal EECCIS Vol. II, No. 1, Juni 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *