Rahasia Kecerdasan Kolektif Lebah dalam Al Quran

Oleh Prof Dr Suhartono S.Si M.Kom

Pasca Sarjana Informatika (S2)
UIN Mualana Malik Ibrahim Malang

Syiar Ramadhan Bersama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di JTV Malang 28 April 2020 dengan alamat URL
https://www.youtube.com/watch?v=-wjQAgZ-vO4

Manusia menjadi hebat jika manusia berjalan lurus sesuai fitrahnya, sehingga manusia menjadi taqwa (sehat, selamat), bila tidak selaras dengan fitrahnya maka manusia akan berjalan ke pilihan yang sesat. Seperti perintah Allah dalam Al Qura’an surat Arrum ayat 30. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” [1]

Jadi kehebatan manusia terletak kepada fitranya sesui dengan agama yang diturunkan Nya. Fitra manusia adalah semua bentuk potensi yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada manusia semenjak proses penciptaannya di alam rahim guna kelangsungan hidupnya diatas dunia serta menjalankan tugas dan fungsinya sebagai makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT. Yaitu fitra yang hanief artinya cenderung pada jalan yang lurus dan meninggalkan kesesatan.

Kondisi dimana manusia dapat mengoptimalkan semua potensi-potensi genetiknya yang dahsyat. Mengelola kecerdasan tertingginya, bukan hanya kecerdasan yang terbentuk karena rasa keingintahuannya (curiousity) yang melahirkan kecerdasan intelektual sebagaimana yang selama ini dibangga-banggakan oleh masyarakat modern, bukan hanya kecerdasan spiritual yaitu kecerdasan yang muncul dari dorongan ruhaniyahnya yang berasal dari Tuhan, bukan hanya kecerdasan kolektif, Kecerdasan kolektif adalah kemampuan kelompok untuk memecahkan masalah lebih banyak dari jumlah masalah yang dihadapi para anggotanya secara individual. Karena itu kecerdasan kolektif lebih baik dari kecerdasan individul yang paling cerdas sekalipun.

Kecerdasan kolektif ini tentu saja tidak hanya di manusia, tetapi juga ada di hampir seluruh jenis binatang bahkan sampai virus sekalipun. Pada tulisan ini adalah koloni lebah. Bila kita pahami bagaimana kecerdasan kolektif ini bekerja, banyak hal bisa kita lakukan untuk memperbaiki kwalitas kehidupan kita ini.

Dimana manusia memiliki kombinasi dari ketiga kecerdasan tersebut, sehingga manusia memiliki kecerdasan tertinggi, yang dapat diwujudkan dalam sebuah kesadaran akan makna atau nilai hidup di dunia, kesadaran akan harga dirinya sebagai makhluk ciptaan tertinggi (aksani taqwim), seperti pada Surat At Tin 4 “Sesungguhnya Aku ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya/ aksani taqwim”. [2]

Pada judul yang ada adalah kajian tentang Rahasia Lebah dalam Al Quran Pada Kecerdasan Kolektif.

Lebah merupakan hewan yang memiliki kedudukan istimewa dan digunakan nama surat pada Al Qur’an yaitu surat An-Nahl, terdapat pada ayat 68 “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Dan dilanjutkan pada ayat 69 “kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” [3]

Urut-urutan ayat tersebut, substansi maknanya, dan isyarat-isyarat di dalamnya selaras dengan teori terbaru tentang lebah madu.

Lebih dari itu, pada waktu ayat tersebut diturunkan, madu belum memiliki peran seperti pada masa sekarang. Dulu madu adalah makanan, tetapi kini menjadi obat. Dulu madu adalah bahan untuk membuat manisan, kini menjadi bahan obat-obatan.

Pada koloni lebah tidak mengenal kecerdasan individual, tetapi mengenal kecerdasan kolektif yang menjadi fitrah nya. Tetapi dapat menghasilkan dampak kinerja yang sangat produktif, efisien, andal dan mengagumkan.

Pertanyaannya, apakah manusia yang memiliki kecerdasan individual, kecerdasan spitual dan kecerdasan kolektif dapat membuat suatu model kinerja koloni lebah?. Secara teoritis-filsafati adalah bisa!. Karena hakikatnya semua fenomena yang ada dialam semesta ini memang sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai model bagi manusia, seperti pada QS Ali Imron 190 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,”. Dan QS Ali Imron 191 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” [4]

Hanya Allah lah yang mampu menciptakan alam semesta dan segala isinya sekaligus mengatur segala urusan makhluk di dalamnya. Dimana hal ini dapat dipahami hanya oleh orang-orang berakal sempurna dan logika yang sehat, yang disebut sebagai ulul albab. Dalam Al-Qur’an, kata ulil-albāb disebutkan sebanyak 16 kali dan selalu merujuk pada arti orang yang berakal.

Lebah merupakan sekelompok besar serangga yang dikenal karena hidupnya berkelompok. Koloni Lebah ini telah menginspirasi banyak ilmuwan dan peneliti untuk merekayasa sebuah kecerdasan kolektif tiruan seperti model pada koloni Lebah. Kecerdasan kolektif tiruan tersebut diyakini dapat mengatasi permasalahan di berbagai bidang kehidupan manusia. 

Beberapa peneliti berdasarkan Koloni Lebah melahirkan Algoritme Artificial Bee Colony (ABC) yang dikenalkan oleh Dervis Karaboga tahun 2005, dari Computer Engineering, Erciyes University, Turkey.  Algoritme ABC ini dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan di berbagai bidang kehidupan. Di bidang kesehatan misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menghitung karbohidrat (carbohydrate counting ) dan ukuran penyajian makanan ( serving Karbohidrat) pada pasien DM. Di bidang pendidikan, Algoritme ABC dapat diadaptasi  ke dalam sebuah aplikasi model sistem belajar fungsional berorganisasi dalam group atau yang paling sederhana adalah menyusun jadual kegiatan di sebuah institusi pendidikan agar tidak berbenturan antara satu dengan yang lain. Dalam komputasi, Algoritme ABC dapat dimanfaatkan untuk memecahkan permasalahan internet host.

Seberapa hebat kecerdasan kolektif koloni lebah sehingga kinerjanya menginspirasi banyak ilmuwan? Koloni lebah sebagai mana manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu untuk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan hidup, mereka harus membangun kerjasama  dengan komunikasi yang baik, jujur dan terbuka antara sesamanya. Tanpa keterbukaan dan kejujuran akan membahayakan nasib koloni secara keseluruhan. Untuk mendapatkan gambaran tentang kinerja dan kecerdasan kolektif koloni lebah,

Ketika Allah mewahyukan kepada lebah, wahyu itu adalah insting yang dianugerahkan Allah kepada koloni lebah. Agar koloni lebah membuat sarang dan memproduksi madu. Kecerdasan kolektif koloni lebah muncul karena bagaimana koloni lebah memenuhi kebutuhan pangan, ini dapat dbuat contoh kasus tentang “Pencarian sumber makanan”, contoh kasus ini adalah sebagai dasar Algoritma Artificial Bee Colony (ABC).
Ilustrasi Algoritma Artificial Bee Colony (ABC) dalam studi kasus “Pencarian sumber makanan yang terbaik” dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Ilustrasi Algoritma Artificial Bee Colony (ABC) dalam studi kasus “Pencarian sumber makanan yang terbaik” [5]

Algoritma Artificial Bee Colony (ABC) adalah algoritma meta heuristic yang meniru perilaku koloni lebah dalam mencari makanan (nektar). Dalam algoritma ABC, koloni lebah dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

  1. Lebah Employee bertugas untuk mengeksploitasi sumber makanan (solusi).
  2. Lebah Onlooker, menunggu di sarang dan kemudian ikut mengeksploitasi sumber makanan berdasarkan informasi tentang sumber makanan yang disampaikan oleh lebah employee melalui waggle dance.
  3. Lebah Scout, bertugas mencari sumber makanan baru jika terdapat sumber makanan yang ditinggalkan oleh lebah employee atau lebah onlooker.

Pada algoritma ABC, solusi atas permasalahan yang optimisasi digambarkan sebagai sumber makanan (nektar).  Dan kualitas dari nektar menggambarkan nilai objective function dari suatu solusi. Jumlah sumber makanan sama dengan jumlah lebah employee, sedangkan jumlah lebah employee sama dengan jumlah lebah onlooker. Perilaku lebah dalam mencari makan dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. Pada tahapan awal mencari sumber makanan, lebah mulai menjelajah wilayah sekitar sarang secara acak untuk mendapatkan sumber makanan.
  2. Setelah menemukan sumber makanan, lebah mulai menjadi lebah employee dan mulai mengeksploitasi sumber makanan yang ditemukan. Setelah itu lebah employee akan kembali ke dalam sarang dengan membawa nektar dan menurunkan nektar. Setelah menurunkan nektar, lebah employee tersebut dapat langsung kembali ke sumber makanan yang dia temukan atau lebah tersebut dapat membagikan informasi tentang sumber makanan yang dia temukan ke lebah lainnya dengan melakukan waggle dance. Banyaknya gerakan dalam tarian menunjukkan kualitas dari nektar. Apabila nektar telah habis, maka lebah employee akan menjadi lebah scout dan mulai mencari sumber makanan lain secara acak.
  3. Lebah onlooker yang menunggu di dalam sarang dapat memilih sumber makan setelah melihat waggle dance yang dilakukan oleh lebah employee

Kinerja dan kecerdasan kolektif masyarakat  Lebah sedikit telah terungkap, begitu menakjubkan dan telah menginspirasi banyak orang untuk merekayasa kecerdasan kolektif buatan yang bermanfaat dalam kehidupan. Kinerja yang dibangun di atas kecerdasan kolektif, kejujuran dan keterbukan.  Komunikasi mengalir ke segala arah dengan jelas dan disampaikan dengan cara yang indah,  yaitu sebuah tarian. Rumah tangga,  lembaga pendidikan, ormas dan negara adalah organisasi tempat tumbuh dan berkembangnya kecerdasan kolektif untuk menemukan solusi berbagai masalah kehidupan. sudahkah kita memberikan ruang dan waktu ?

Berbeda dengan organisasi hierarki yang banyak dipakai oleh manusia untuk mengatur kelompok, kebanyakan spesies sosial seperti koloni lebah mencapai tujuan kelompoknya menggunakan pendekatan akar rumput yang benar-benar murni. Sebab, tidak ada struktur pengendali dan perintah terpusat. Kerja sama yang dilakukan koloni lebah, adalah memperlihatkan kemampuan melakukan sesuatu bersama-sama jauh lebih besar daripada lebah tunggal yang tidak memiliki kebiasaan sosial.

Kecerdasan kolektif ini dilakukan secara tersebar dari respon masing-masing lebah terhadap rangsangan di sekitarnya, khususnya dari anggota lain yang akan bekerja sama. Tidak ada ketua dalam hal ini dan tidak ada salah satu individu yang memperlihatkan dominasi. Hebatnya, respon dari setiap individu dapat membangun tujuan bersama yang diinginkan kelompok tersebut.

Kinerja dan kecerdasan kolektif Lebah telah memikat perhatian Nabi Muhammad saw sehingga menjadikannya sebagai “pemodelan ideal” sebagai seorang mukmin, yaitu yang dimakan itu pasti baik, jika hinggap pada tanaman berbunga tak merusak atau mematahkan ranting dan dahannya, harus bisa bersatu padu, kompak, penuh persaudaraan dan kebersamaan, serta berbagi tugas dan fungsi dalam menyelesaikan masalah, dituntut memiliki etos kerja yang ikhlas, cerdas, keras, tuntas, berkualitas, dan memberi rasa puas bagi orang lain dengan disiplin dan produktivitas tinggi.

Kecerdasan kolektif pada koloni lebah adalah kemukjizatan lebah dalam Al Qur’ an.

Daftar Pustaka

[1]. https://tafsirweb.com/37159-quran-surat-ar-rum.html

[2]. https://tafsirweb.com/37367-quran-surat-at-tin.html

[3]. https://tafsirweb.com/37129-quran-surat-an-nahl.html

[4]. https://tafsirweb.com/37100-quran-surat-ali-imran.html

[5] https://www.google.com/url?sa=i&source=imgres&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjk_fSq8f3oAhWm63MBHRfKCGwQjRx6BAgBEAQ&url=https%3A%2F%2Fslideplayer.info%2Fslide%2F12115264%2F&psig=AOvVaw01wKAdR0cuhOhyClQZsPjA&ust=1587708304069422

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *