Menakar Kefitrian dalam Konteks New Normal

Prof Dr Suhartono M.Kom

Pasca Sarjana Program Studi Magister Informatika (S2)

Menakar Kefitrian

Saat ini menjaga kefitrian mahasiswa di UIN Maulana malik Ibrahim Malang adalah agenda yang terus diperjuangkan seumur hidup, bukan sekadar seremoni model tasyakuran setelah kita selesai berpuasa Ramadan. Sebagaimana juga pesan ibadah puasa yang kita lakukan, dimana kita selalu melakukan imsak yaitu menahan diri dari pikiran dan perbuatan yang merusak aklak dan martabat kemanusiaan kita tidak hanya pada ibadah puasa saja tetapi pada sepanjang hayat. 

Dimana jika kita berhasil melakukan imsak, maka kita akan berhasil menjaga dan meningkatkan kefitrian. Kefitrian adalah sebagai potensi dalam pembentukan karakter, sifat, dan kecenderungan laten manusia yang tak akan berubah sepanjang hidupnya. Kefitrian manusia selalu berorientasi pada hal yang baik, yang akan menenteramkan hati dan perasaan. Disamping itu kefitrian manusia senantiasa mencintai keindahan. Kita semua sesungguhnya merindukan dan menghargai keindahan. 

Dengan memahami fitrah seperti diuraikan di atas, sesungguhnya merupakan agenda hidup sepanjang hayat untuk menjaga dan meningkatkan peran kefitrian kita dalam rangka membangun peradaban pada Konteks New Normal. Pesan ini berlaku tidak hanya mahasiswa tapi untuk semua manusia. Di situlah salah satu pesan UIN Maulana Malik Ibrahim sebagai universalitas Islam. Dimana pendidikan adalah salah satu jalan paling tepat untuk membentuk pribadi mahasiswa yang senantiasa fitri dalam menuju New Normal. 

New normal adalah hidup “berdampingan” dengan COVID-19 sambil menjalani aktivitas seperti biasa. Untuk menjalani aktivitas seperti biasa tetap ada batasan-batasannya. Tujuan batasan-batasan tersebut untuk mencegah penularan virus Corona. Dimana mendorong kita untuk lebih gencar dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan dasar terhadap penularan COVID-19, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer, tidak menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci, menerapkan physical distancing, serta mengenakan masker dalam setiap aktivitas, terutama di tempat umum.

Penerapan New Normal

Berikut adalah new normal pada aktivitas hidup sehari-hari adalah :

  • 1. Saat harus keluar rumah dan kembali lagi ke rumah menggunakan Protokol COVID-19.
  • 2. Sewaktu menggunakan transportasi umum menggunakan Protokol COVID-19.
  • 3. Selama bekerja di kantor menggunakan Protokol COVID-19.
  • 4. Ketika berbelanja menggunakan Protokol COVID-19.
  • 5. Ketika berbelanja online atau memesan makanan online menggunakan Protokol COVID-19.
  • 6. Ketika membutuhkan layanan kesehatan menggunakan Protokol COVID-19.

Berikut adalah new normal pada aktivitas pada kegiatan akademik adalah :

  1. Kegiatan akademik dibuka dengan pembatasan dan ketentuan khusus secara bertahap dan bergantian sesuai dengan Protokol Covid-19. .
  2. Akses masuk dan keluar kampus dan khusus bagi pejalan kaki dengan pembatasan dan penerapan Protokol Covid-19
  3. Protokol Covid-19 disesuaikan secara bertahap. Pembiasaan Protokol Covid-19 yang baru kepada seluruh sivitas kampus secara mandiri.
  4. UM mengatur kehadiran di kampus secara bergiliran diatur sistem blok per angkatan perbulan
  5. Proses belajar secara luring dengan menerapkan Protokol Covid-19 dan daring
  6. Kegiatan akademik harus mempersiapkan fasilitas pendukung Protokol Covid-19
  7. Penerimaan Mahasiswa Baru dilakukan daring dan luring dengan memperhatikan Protokol Covid-19.
  8. Registrasi mahasiswa baru dilakukan secara daring

Pada kondisi dimana masih terdapat penularan virus Corona pada masyarakat dan akan diberlakukan New Normal yang tidak boleh lewat dan kendor dari diri seseorang adalah kefitrian diri. Artinya kefitrian yang telah dicapai harus dirawat tidak dibiarkan hilang karena memikirkan tentang penularan virus Corona.

Seseorang dikatakan mempunyai hati yang fitri, jika seseorang tersebut mempunyai hati yang bersih dari penyakit hati. Maka penerimaan seseorang supaya bisa masuk ke New Normal, maka seseorang tersebut harus dapat mengidentifikasi diri apakah hatinya sedang sakit atau tidak. Dari penulis dapat membuat kesimpulan bahwa kita bisa menerima New Normal jika kondisi kita mempunyai hati yang fitri, sedangkan jika kondisi kita belum mempunyai hati yang fitri maka sulit bagi kita untuk bisa menerima / atau hidup dengan New Normal.

Kondisi untuk bisa menerima New Normal ini memang sulit, karena kecenderungan manusia merasa dirinya baik, dirinya benar di satu sisi dan mencari kambing hitam atau demonisasi, pada sisi lainnya. Yang jelas-jelas busuk pun jika berasal dari dirinya sendiri, manusia merasa enjoy-enjoy saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *