RAHASIA KECERDASAN KOLEKTIF DALAM AL-QURÁN

Prof Dr Suhartono S.Si M.Kom

Magister Informatika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

http://suhartono.lecturer.uin-malang.ac.id/

Kultum, Tadarus & Kajian Tafsir ke : 29 KAHMI

Di dalam al-Qur’an terdiri dari 114 surat, 6226 ayat dan 320.671 huruf, berdasarkan ayat-ayat dalam Al-Qur-an, menyatakan bahwa binatang adalah salah satu makhluk Allah swt seperti manusia, karena binatang pun ada penetapan rezeki sama hal nya manusia walaupun bukan secara keseluruhan layaknya manusia, dan binatang pun termasuk dalam tanda-tanda kebesaran atau pun kekuasan Allah swt (QS. Al-An‟am 38, QS. Asy-syura‟ 29, QS. Hud :6)

QS. Al-An‟am 38

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

wa mā min dābbatin fil-arḍi wa lā ṭā`iriy yaṭīru bijanāḥaihi illā umamun amṡālukum, mā farraṭnā fil-kitābi min syai`in ṡumma ilā rabbihim yuḥsyarụn

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.

QS. Asy-syura‟ 29

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيْهِمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ ۗوَهُوَ عَلٰى جَمْعِهِمْ اِذَا يَشَاۤءُ قَدِيْرٌ

wa min āyātihī khalqus-samāwāti wal-arḍi wa mā baṡṡa fīhimā min dābbah, wa huwa ‘alā jam’ihim iżā yasyā`u qadīr

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki.

QS. Hud : 6

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

wa mā min dābbatin fil-arḍi illā ‘alallāhi rizquhā wa ya’lamu mustaqarrahā wa mustauda’ahā, kullun fī kitābim mubīn

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Dalam suatu kejadian kita pernah mengalami digigit nyamuk Mengapa ketika kita digigit nyamuk,secara reflek menepuk nyamuk. Bagaimana mekanisme perjalanan implus sehingga kita bisa merasakan sakit?. Mungkin pertama kali menempel awal gigitan pertama, kita tidak bisa merasakan gigitan nyamuk, tetapi, jika makin lama, tubuh kita reflek akan terasa, dan menepuk nyamuk. Efek seperti ini juga terjadi pada binatang.

Proses kejadian ini kalau kita renungkan, mengapa kita dengan cepat dapat menentukan posisi bagian tubuh kita yang telah digigit nyamuk tersebut, kemudian mengapa dengan cepat kita dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara menepuk nyamuk yang telah menggigit kita, kalau dihitung oleh waktu kita hanya membutuhkan sekian perdetik untuk bisa menentukan posisi dan menepuk nyamuk tersebut.

Kalau kita bisa renungkan ini adalah suatu proses yang sangat pintar (smart), dimana sistem pada tubuh manusia terdapat hasil kerja yang sangat cepat dan akurat dalam merespon gangguan yang terjadi, dimana dapat dikatakan bahwa gigitan nyamuk adalah sebuah gangguan, kemudian terdapat feedback  dari gangguan tersebut, yaitu rasa sakit pada tubuh kita, tubuh kita akan melakukan pengolah feedback ( bisa kita katakan processor atau otak), hasil output processor adalah menentukan posisi nyamuk yang menggigit tubuh kita, kemudian melakukan actuator yaitu respon yang harus dilakukan oleh tubuh kita berupa tindakan output dengan menepuk sehingga rasa sakit dan gatal tersebut hilang.

Perenungan sistem kerja tersebut ini telah mengilhami De Castro untuk mendapatkan metode Artificial Immune System (AIS), metode Artificial Neural Network. Konsep ini adalah pendekatan berfikir yang baik untuk mengadopsi sistem yang ada pada manusia agar bisa diterapkan pada bidang yang lain.

Manusia memiliki kecerdasan tertinggi dan sebagai makhluk ciptaan tertinggi (aksani taqwim),

Surat At Tin 4

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,

Berdasar ayat tersebut, pada diri manusia terdapat kecerdasan yang sebaik-baik nya, tidak hanya terdapat tiga kecerdasan, kecerdasan intelektual yaitu kecerdasan yang terbentuk karena rasa keingintahuannya (curiousity), kecerdasan spiritual yaitu kecerdasan yang muncul dari dorongan ruhaniyahnya yang berasal dari Tuhan, kecerdasan kolektif yaitu kemampuan kelompok untuk memecahkan masalah lebih banyak dari jumlah masalah yang dihadapi para anggotanya secara individual. Tetapi juga manusia memiliki kombinasi dari ketiga kecerdasan tersebut, sehingga manusia dapat diwujudkan dalam sebuah kesadaran akan makna atau nilai hidup yang baik di dunia, dan menjadi kesadaran akan harga dirinya sebagai makhluk ciptaan tertinggi (aksani taqwim).

Pada topik tentang KECERDASAN KOLEKTIF, pada surat Hud : 6, terjemahannya adalah “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. Allah swt menciptakan makhluk hidup dengan bekal fixed intelligent, dimana fixed intelligent tersebut adalah sebuah modal yang diberikan Allah swt berupa sebuah prosessor yang sudah terisi dengan perangkat lunak (software) yang cerdas, jadi semua binatang mempunyai fixed intelligence, binatang lebah dapat bekerja sama dengan baik pada saat membuat madu.

Lebah merupakan hewan yang memiliki kedudukan istimewa dan digunakan nama surat pada Al Qur’an yaitu surat An-Nahl : 68

وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ 

wa auḥā rabbuka ilan-naḥli anittakhiżī minal-jibāli buyụtaw wa minasy-syajari wa mimmā ya’risyụn

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,

Dan dilanjutkan pada surat An-Nahl : 69

ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

ṡumma kulī ming kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā, yakhruju mim buṭụnihā syarābum mukhtalifun alwānuhụ fīhi syifā`ul lin-nās, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn

kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.

Urut-urutan ayat tersebut, substansi maknanya, dan isyarat-isyarat di dalamnya selaras dengan teori terbaru tentang lebah madu.

Lebih dari itu, pada waktu ayat tersebut diturunkan, madu belum memiliki peran seperti pada masa sekarang. Dulu madu adalah makanan, tetapi kini menjadi obat. Dulu madu adalah bahan untuk membuat manisan, kini menjadi bahan obat-obatan.

Pada koloni lebah tidak mengenal kecerdasan individual, tetapi mengenal kecerdasan kolektif. Lebah dapat bekerja sama dengan baik saat mencari makanan. Tanpa membawa peta, makanan dapat ditemukan melalui proses pelacakan secara optimal, dan ditemukannya makanan dengan jarak yang sangat pendek. Lebah melakukan manajemen kerjasama dalam koloni nya dengan sangat efisien. Ini adalah contoh sebuah manajemen koloni yang sangat akurat, terukur dan sangat modern. Sehingga koloni lebah dapat menghasilkan dampak kinerja yang sangat produktif, efisien, andal dan mengagumkan.

Pertanyaannya, apakah manusia yang memiliki kecerdasan individual, kecerdasan spitual, kecerdasan kolektif dan kecerdasan gabungan ketiganya dapat membuat suatu model kinerja seperti koloni lebah?. Secara teoritis-filsafati adalah bisa!.

Karena hakikatnya semua fenomena yang ada dialam semesta ini memang sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai model bagi manusia, seperti pada

QS Ali Imron : 190

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri la`āyātil li`ulil-albāb

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,

Dan QS Ali Imron : 191

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

allażīna yażkurụnallāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbihim wa yatafakkarụna fī khalqis-samāwāti wal-arḍ, rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, sub-ḥānaka fa qinā ‘ażāban-nār

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Hanya Allah lah yang mampu menciptakan alam semesta dan segala isinya sekaligus mengatur segala urusan makhluk di dalamnya. Dimana hal ini dapat dipahami hanya oleh orang-orang berakal sempurna dan logika yang sehat, yang disebut sebagai ulul albab

Koloni Lebah ini telah menginspirasi banyak ilmuwan dan peneliti untuk merekayasa sebuah kecerdasan kolektif tiruan seperti model pada koloni Lebah. Kecerdasan kolektif tiruan tersebut diyakini dapat mengatasi permasalahan di berbagai bidang kehidupan manusia. 

Model minimal dari seleksi mencari makan juga telah memunculkan pemanfaatan kecerdasan buatan kolektif dari koloni lebah madu, dimana terdapat tiga komponen penting yaitu sumber makanan, lebah pekerja dan lebah unemployed. Konsep ini dikenal dengan metode Artificial Bee Colony (ABC). Selain itu pada proses perkawinan pada lebah madu telah melahirkan sebuah metode Marirage in Honey Bee Optimization

Berbeda dengan organisasi hierarki yang banyak dipakai oleh manusia untuk mengatur kelompok, kebanyakan spesies sosial seperti koloni lebah mencapai tujuan kelompoknya menggunakan pendekatan akar rumput yang benar-benar murni. Sebab, tidak ada struktur pengendali dan perintah terpusat. Kerja sama yang dilakukan koloni lebah, adalah memperlihatkan kemampuan melakukan sesuatu bersama-sama jauh lebih besar daripada lebah tunggal yang tidak memiliki kebiasaan sosial.

Kecerdasan kolektif ini dilakukan secara tersebar dari respon masing-masing lebah terhadap rangsangan di sekitarnya, khususnya dari anggota lain yang akan bekerja sama. Tidak ada ketua dalam hal ini dan tidak ada salah satu individu yang memperlihatkan dominasi. Hebatnya, respon dari setiap individu dapat membangun tujuan bersama yang diinginkan kelompok tersebut.

Kinerja dan kecerdasan kolektif Lebah telah memikat perhatian Nabi Muhammad saw sehingga menjadikannya sebagai “pemodelan ideal” sebagai seorang mukmin, yaitu yang dimakan itu pasti baik, jika hinggap pada tanaman berbunga tak merusak atau mematahkan ranting dan dahannya, harus bisa menjadi satu kesatuan, kompak, penuh persaudaraan dan kebersamaan, serta berbagi tugas dan fungsi dalam menyelesaikan masalah, dituntut memiliki etos kerja yang ikhlas, cerdas, keras, tuntas, berkualitas, dan memberi rasa puas bagi orang lain dengan disiplin dan produktivitas tinggi. Kecerdasan kolektif pada koloni lebah adalah kemukjizatan lebah dalam Al Qur’ an.

SEBAGAI PENUTUP KATA

SEMOGA ALLAH SWT, SENANTIASA MEMBERI PETUNJUK DAN HIDAYAH-NYA KEPADA KITA SEMUA.

AAMIIN YA RABBAL ALAMIN.

MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKURANGANNYA. WABILLAHITAUFIK WAL-HIDAYAH WASSALAMUALIKUM.WR.WB.

Daftar Pustaka

[1]. https://tafsirweb.com/37159-quran-surat-ar-rum.html

[2]. https://tafsirweb.com/37367-quran-surat-at-tin.html

[3]. https://tafsirweb.com/37129-quran-surat-an-nahl.html

[4]. https://tafsirweb.com/37100-quran-surat-ali-imran.html

[6] https://books.google.co.id/books?id=O28SEAAAQBAJ&pg=PA1&source=gbs_toc_r&hl=jv#v=onepage&q&f=true

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *